Skip to content

Biodiesel Sawit Bagi Masyarakat: Bagaikan Dua Mata Pisau

Anwar Muhammad Foundation – Menyambut Hari Gerakan Satu Juta Pohon Sedunia, manusia diingatkan untuk senantiasa menyadari pentingnya peran pohon bagi kehidupan. Berbagai aktivitas manusia ditunjang oleh keberadaan pohon. Paling sederhana, pohon membantu menciptakan suasana yang sejuk dan teduh. Fisik pohon dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan material. Yang terpenting, pohon berperan sebagai penyerap gas karbon dioksida sehingga memungkinkan kita bernafas dengan lega.

Lebih jauh, pohon kini dimanfaatkan untuk diambil minyaknya sebagai pengganti bahan bakar fosil. Salah satu bahan bakar yang berasal dari minyak tersebut adalah biodiesel. Banyak pohon yang bisa menjadi bahan baku dari biodiesel, seperti tanaman jarak, kemiri sunan, nyamplung, dan lain sebagainya. Namun, yang Paling banyak digemari adalah biodiesel berbahan kelapa sawit.

Mandatori yang Berujung Pada Limpahan Rezeki

Saat ini, Indonesia sedang mengupayakan perluasan penggunaan B30 dengan adanya Mandatori B30. B30 merupakan bahan bakar cair yang merupakan campuran dari biodiesel sebesar 30% dan solar sebesar 70%. B30 ini merupakan peningkatan dari program sebelumnya yaitu B20 yang mana biodiesel hanya mengambil 20% porsi bahan bakar. B30 memiliki berbagai keuntungan dibandingkan dengan penggunaan solar 100% untuk bahan bakar kendaraan.

Adanya mandatori biodiesel menjadikan harga buah sawit segar melambung tinggi. Padahal, akibat pelemahan perekonomian global, harga sawit terancam jeblok dan tidak berdaya saing. Mandatori B30 menjadikan permintaan sawit dalam negeri melonjak. Petani tidak perlu terlalu risau akan situasi pasar internasional. Hal ini juga menjadikan ketersediaan sawit untuk pasar internasional menjadi terbatas. Fenomena ini akan menaikkan harga sawit sehingga kegiatan ekspor sawit pun bisa lebih menguntungkan.

B20 dan B30 adalah campuran antara minyak sawit dengan solar. Maka peningkatan persentase sawit dalam bahan bakar diesel akan menjadikan kebutuhan solar semakin menurun. Indonesia dapat mengurangi impor solarnya. Tercatat bahwa penghematan negara akibat pengurangan impor solar bisa mencapai angka 63,4 triliun di tahun 2020.

Baca Juga : Menyambut Bulan Januari yang Rentan Bencana Hidrometeorologi

Kebutuhan akan sawit yang meningkat juga mengharuskan produksi sawit yang meningkat pula. Peningkatan produksi memicu adanya penambahan lapangan pekerjaan, mulai dari proses di hulu hingga hilir. Petani kelapa sawit meningkat jumlahnya dari kurang lebih 800 ribu orang di tahun 2019 menjadi 1,2 juta orang di tahun 2020.

Meningkatnya produksi biodiesel berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan masyarakat yang berada dalam rantai pasok biodiesel. Hampir 50% lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia adalah perkebunan rakyat. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dari daerah sentra sawit ternyata lebih tinggi dari daerah yang bukan sentra sawit. Hal ini menunjukkan bahwa perkebunan sawit memberikan keuntungan material bagi masyarakat.

Sumber foto : Palm Oil Fruit

Biodiesel Ramah Lingkungan?

Biodiesel, dibandingkan dengan solar 100%, memiliki emisi gas rumah kaca yang lebih sedikit. Tercatat bahwa di tahun 2020, penggunaan biodiesel sebagai campuran bahan bakar bisa mengurangi emisi CO2e hingga 14,34 juta ton. Hal ini dikarenakan angka cetane B20 ataupun B30 lebih tinggi dan kandungan oksigennya pun lebih banyak. Oksigen akan memicu pembakaran yang lebih sempurna. Tidak hanya itu, emisi SOx juga berkurang dengan digunakannya biodiesel.

Biodiesel Indonesia masih banyak bergantung pada kelapa sawit. Seperti yang kita ketahui, kelapa sawit sudah menjadi simbol ketidakberlanjutan. Hal ini bukan merupakan bentuk kampanye abal-abal belaka. Perkebunan sawit membutuhkan pupuk dan obat-obatan dalam proses budidayanya. Residu dari pupuk dan obat tanaman akan bisa mencemari air. Terdapat beberapa masyarakat yang mengeluhkan bahwa air yang digunakan tercemar karena adanya konversi lahan hutan menjadi perkebunan sawit.

Buangan limbah pupuk pohon sawit di badan air juga bisa mengurangi kuantitas ataupun kualitas biota air. Keanekaragaman hayati perkebunan sawit, berdasarkan penelitian, juga lebih sedikit dibandingkan dengan hutan tropis.

Dampak berupa berkurangnya sumber air juga dirasakan oleh sebagian masyarakat yang tempat tinggalnya berubah menjadi perkebunan sawit. Saat kemarau, masyarakat membutuhkan usaha ekstra untuk bisa menemukan sumber air. Hal ini karena hutan yang selama ini menyimpan air telah terkonversi. Tidak hanya itu, badan air yang tercemar juga menjadi alasan mengapa masyarakat kekurangan air, terutama di musim kemarau.

Sumber foto : 5213.jpg (1024×768) (betahita.id)

Relevansi Biodiesel di Masa Depan

 Transisi energi yang makin diakselerasi menimbulkan pertanyaan, apakah biodiesel masih relevan? Saat ini, tren bagi mode transportasi yang lebih ramah lingkungan adalah dengan elektrifikasi. Agar berkelanjutan sepenuhnya, bahan bakar yang menghasilkan listrik transportasi adalah energi baru terbarukan seperti tenaga matahari. Maka biodiesel seakan-akan tidak memiliki tempat.

Namun, bahan bakar cair, termasuk biodiesel, masih akan dibutuhkan. Penetrasi kendaraan listrik di Indonesia tidak selalu berjalan dengan mulus dan merata. Masih ada beberapa area atau mode transportasi tertentu yang masih membutuhkan bahan bakar cair. Biodiesel dalam hal ini memiliki posisi strategis sebagai bahan bakar cair yang lebih ramah lingkungan.

Author