Skip to content

Meramu Berbagai Sudut Pandang dalam Webinar “Peran Serta Akademisi dalam Mewujudkan Green Economy Berbasis Pendanaan dalam Kerangka Green Financing”

  • by

(31/1) Telah berjalan dengan lancar webinar yang diselenggarakan oleh AMF bersama HMH ‘Selva’ ITB kemarin, 30 Januari 2021. Acara ini dihadiri oleh tamu spesial, Prof. Dr. Emil Salim yang sebelumnya mengabarkan berhalangan hadir. Webinar ini berhasil mendatangkan ratusan peserta dari berbagai daerah. Webinar ini dibagi menjadi dua sesi dengan pembicara-pembicara dari berbagai latar belakang. Hal ini, membuat webinar kali ini sarat akan pengetahuan dari berbagai sudut pandang.

Sesi yang pertama dimoderatori oleh Dr. Endah Sulistyawati selaku dosen SITH ITB dengan dua pembicara yang luar biasa, yakni Angga Dwiartama, Ph.D dari SITH ITB dan Rizkiasari Yudawinata dari WWF Indonesia.

Dalam Pemaparannya, Pak Angga menjelaskan persiapan-persiapan yang bisa dilakukan oleh sektor litbang (penelitian dan pengembangan) untuk mengimplementasikan ekonomi hijau. Salah satunya dengan menciptakan sustainability science, yakni suatu bidang ilmu hasil dari pendekatan interdisiplin antara engineering, ilmu alam, dan ilmu sosial untuk mengatasi tantangan berkelanjutan. Hal ini sudah diterapkan di ITB, khususnya di Sekolah Ilmu dan Teknologi Hayati ITB melalui mata kuliah Teknologi Produksi Bersih, Ekonomi Ekologi, dan Manajemen Bisnis Keanekaragaman Hayati.

Dari sudut pandang yang lain dibahas oleh Rizkiasari Yudawinata atau Bu Kiki selaku Koordinator Sustainable Finance WWF Indonesia. Beliau memaparkan bahwa regulasi mengenai keuangan berkelanjutan sudah ada sejak 2017. Hal ini ditunjukkan oleh hadirnya berbagai platform yang mendukung sustainable finance di Indonesia, seperti OJK (Otoritas Jasa Keuangan), SBN (Sustainability Banking Network), dan Network for Greening the Financial System yang berfokus pada regulator jasa keuangan dan identifikasi risiko perubahan iklim yang berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi. Bu Kiki menambahkan bahwa Indonesia memiliki keunggulan di pilar policies yang dapat dilihat dari hampir semua Bank di Indonesia sudah memiliki kebijakan yang telah melalui proses asesmen. Akan tetapi, kebanyakan masih berfokus pada sektor kelapa sawit yang berpengaruh terhadap deforestasi hutan.

Sesi kedua diawali oleh penyampaian materi dari Prof. Dr. Emil Salim yang dimoderatori oleh Dr. Ichsan Suwandhi S.Hut.,M.P. selaku dosen Rekayasa Kehutanan ITB. Prof. Emil menandaskan hal-hal filosifis mengenai ekonomi pembangunan. Beliau menyatakan bahwa pola pembangunan yang tidak mengindahkan daya dukung ekosistem lingkungan lokal akan menghasilkan output yang buruk. Mengapa demikian? Prof. Emil menjelaskan bahwa sumber daya alam lokal harus dimanfaatkan sesuai dengan karakteristik lingkungan lokal tersebut. Akan tetapi, pada praktiknya, pola pembangunan Indonesia cenderung mengikuti pola pembangunan di Jawa. Inilah yang seringkali menyebabkan pembangunan tidak bersifat berkelanjutan dan membutuhkan biaya yang tinggi. Maka dari itu, perlu adanya pendekatan ekosistem dalam membangun sebuah lingkungan lokal. Simpulan Prof. Emil merujuk pada arti filosofis pembangunan berkelanjutan yang Beliau tafsirkan sebagai resources enrichment. Maksudnya, bahwa sumber daya alam harus dipandang bukan sebagai objek untuk dieksploitasi tapi untuk diperkaya.

Pembahasan selanjutnya menggiring peserta webinar pada sudut pandang praktisi di bidang sustainable finance, yakni Muhammad Didi Hardiana atau Pak Didi. Pak Didi merangkum kondisi pendanaan berkelanjutan di Indonesia. Indonesia sudah berkomitmen dalam RPJMN (Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2020—2024 untuk mengurangi emisi karbon mengingat kerusakan alam yang akan ditanggung Indonesia pada 2050 menadatang apabila hal ini tidak diperhatikan. Oleh karena itu, pembiayaan terkait dengan perubahan iklim harus diperhatikan. Green Finance berarti penggunaan produk dan layanan keuangan untuk meningkatkan aliran keuangan dari sektor publik, swasta, dan nirlaba ke prioritas pembangunan berkelanjutan, khususnya di bidang teknologi, proyek, industri, dan bisnis yang berorientasi lingkungan. Dalam hal ini, peran UNDP Indonesia dalam mendorong instrumen green finance diwujudkan salah satunya melalui Climate Budget Tagging, yaitu sebuah mekanisme untuk mengidentifikasi dan melacak anggaran yang telah dikeluarkan pemerintah untuk mitigasi dan adaptasi perubahan iklim. Selain itu, untuk mendukung green finance, UNDP Indonesia juga banyak berkolaborasi dengan universitas dan lembaga riset.

Pemaparan terakhir disampaikan oleh Alfiazka Anargha Aldi, salah satu perwakilan dari Mahasiswa Rekayasa Kehutanan ITB. Dari sudut pandang mahasiswa, Azka memaparkan hasil peneltian mahasiswa ITB terhadap Carbon Trading dan Peluang Green Jobs. Dalam pamaparanya, Azka menyebutkan bahwa penelitian yang dilakukan mahasiswa sangat penting untuk mendukung praktik carbon trading. Mahasiswa bisa menghitung stok karbon untuk mengetahui kondisi stok karbon disebuah kawasan, salah satunya yang dilakukan oleh mahasiswa ITB dengan menghitung stok karbon di TNWK (Taman Nasional Way Kambas). Hal ini merupakan upaya yang bisa dilakukan oleh mahasiswa sebagai aksi memulihkan kualitas lingkungan yang menurutnya berpotensi pada peluang terciptanya green jobs.

Author