Anwar Muhammad Foundation – Pada 30 Juni 2026, dua anggota tim AMF yang juga alumni Rekayasa Kehutanan SITH-ITB berkesempatan hadir dalam Asesmen Lapangan Akreditasi program studi tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang refleksi bersama bagi perguruan tinggi, alumni, dan pengguna lulusan (user) untuk melihat sejauh mana proses pembelajaran di kampus tetap relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Rangkaian kegiatan tersebut membagikan pengalaman mereka dalam menerapkan keilmuan kehutanan dalam proyek sustainability, pemberdayaan masyarakat, bisnis komoditas, dan perlindungan keanekaragaman hayati.
Awal Mula Keterlibatan AMF dengan SITH-ITB
Keterlibatan AMF sebenarnya telah terbangun cukup lama. Langkah awal dimulai saat AMF menjadi salah satu sponsor Forestshare, sebuah acara yang digelar oleh himpunan mahasiswa HMH ‘Selva’ ITB pada 2020. Interaksi tersebut meninggalkan kesan positif. Dari hasil pengalaman tersebut berlanjut dengan AMF mulai merekrut alumni sejak tahun 2021.
Komitmen ini diperkuat melalui Perjanjian Kerja Sama resmi pada tahun 2022 antara AMF dan SITH-ITB. Fokus utamanya adalah mendekatkan dunia akademik dengan ranah profesional melalui riset, pengembangan kapasitas, dukungan kegiatan akademik, penyediaan ruang belajar berbasis proyek, serta pelibatan alumni. Saat ini, salah satu inisiatif utamanya adalah pengelolaan Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Hutan Pendidikan Gunung Geulis ITB, yang mengusung konsep “Co-Laboratory Quintuple Helix dalam Manajemen Jasa Ekosistem.”
Alumni Sebagai Jembatan Kampus dan Industri
Dalam kegiatan asesmen tersebut, tim AMF diwakili oleh Zabrina Gilda Maheswarry dan Alfiazka Anargha Aldi. Diskusi banyak menyoroti relevansi dan dampak kurikulum kuliah terhadap implementasi pekerjaan. Hal menariknya, alumni dan para user yang hadir terdiri dari berbagai pihak, mulai dari NGO, perusahaan swasta, lembaga penelitian, hingga BUMN. Sebagai NGO yang berfokus pada keseimbangan ekonomi, sosial, dan lingkungan, AMF turut memberikan sudut pandang yang luas terkait hal ini.

Sumber: Dokumentasi AMF, 2026
“Pembelajaran di Rekayasa Kehutanan membentuk kemampuan saya untuk melihat persoalan secara utuh, mulai dari aspek lingkungan, sosial, hingga ekonomi. Kemampuan tersebut sangat relevan ketika saya menyusun strategi bisnis dan program pemberdayaan masyarakat berbasis komoditas kopi, karena keberlanjutan program tidak hanya ditentukan oleh aspek teknis, tetapi juga oleh kelembagaan petani dan kelayakan investasinya.
Hubungan yang tetap terjaga dengan dosen dan jejaring alumni juga membuka ruang diskusi, kolaborasi, dan pertukaran pengetahuan yang bernilai bagi pengembangan pribadi maupun lembaga.” Ujar Gilda, Chief Strategy Business Anwar Muhammad Collagregator.

Sumber: Dokumentasi AMF, 2024
Alfiazka, Principal Environmental & Biodiversity Safeguard AMF sekaligus CEO & Co-Founder Anwar Muhammad Collagregator, memiliki pandangan senada. “Kegiatan ini mengingatkan lagi bagaimana ilmu dari kampus benar-benar diaplikasikan di lapangan. Kesinambungan pola pikir antara masa kuliah dan dunia kerja itu penting sekali. Bukan sekadar tentang nilai mata kuliah, melainkan juga kemampuan adaptasi teknologi dan soft skill,” ungkapnya.
Ilmu Kehutanan dalam Safeguard dan ESG
Lebih lanjut, Azka memberikan pandangan lain bahwa ilmu dari kampus sangat terpakai dalam konteks safeguard, biodiversitas, dan Environmental, Social, and Governance (ESG). Pondasi tersebut mempermudah adaptasi mulai dari tahap perencanaan, pengambilan data, hingga pelaporan.
“Kebetulan di tim, ada lulusan Rekayasa Kehutanan. Sebagai leader, menyatukan ritme dan cara berpikir jadi jauh lebih mudah karena fondasinya sudah sama. Proses belajarnya cepat, dan eksekusi proyek bisa berjalan efisien,” tambahnya.
Azka juga menyoroti peran sivitas akademika dalam eksekusi proyek di lapangan. ”Peran dosen Rekayasa Kehutanan juga tidak kalah penting. Dosen sering dilibatkan sebagai tenaga ahli untuk Quality Control. Sudut pandang akademik mereka kerap memberikan pandangan baru yang melengkapi kacamata tim teknis, terutama di proyek-proyek biodiversitas.”
Jejak Kolaborasi AMF dan Rekayasa Kehutanan SITH-ITB

Sepanjang tahun 2021 hingga 2026, kolaborasi AMF dan Rekayasa Kehutanan SITH-ITB telah menorehkan jejak nyata melalui:
- Keterlibatan Alumni: Sebanyak 12 alumni telah berkontribusi langsung dalam penggarapan berbagai proyek di bawah naungan AMF Group.
- Ruang Belajar Mahasiswa: Terdapat 12 mahasiswa yang mendapat fasilitas pembelajaran praktis melalui program kerja praktik, pengerjaan tugas akhir, dan dukungan teknis.
- Cakupan Tema: Sinergi ini mengeksplorasi lebih dari 4 tema krusial, meliputi sustainable agriculture, supply chain, ESIA, dan biodiversity planning.
- Portofolio Proyek Utama: Implementasi ilmu terwujud dalam berbagai proyek strategis, seperti SAVA, SUPA, kajian ESIA, serta perumusan Biodiversity Action Plan.
Merawat Ekosistem Talenta Berkelanjutan
Bagi AMF, kerja sama dengan SITH ITB memiliki makna yang mendalam. Hubungan ini membuka jalan untuk bertemu dengan talenta andal serta menggali wawasan akademik yang membuat setiap program dan inovasi menjadi lebih hidup. Dosen, alumni, dan mahasiswa yang terlibat bisa menjadi rekan diskusi yang tepat untuk merumuskan solusi nyata bagi lingkungan dan masyarakat.
Momen asesmen lapangan ini kembali menjadi momentum sekaligus pengingat bagi AMF. Ternyata pembelajaran itu tidak hanya dibentuk di dalam ruang kelas, tetapi terlihat jelas dari rekam jejak para alumninya di ranah pekerja profesional, saat mereka menerapkan ilmu, mengurai masalah, dan membawa pengalaman tersebut kembali ke kampus.
Harapannya, ruang kolaborasi ini bisa semakin terbuka luas. Bisa saling belajar, bertumbuh, dan menciptakan dampak positif yang berkelanjutan.





