Anwar Muhammad Foundation – Pagi itu, ruang pelatihan tidak langsung dipenuhi rumus atau istilah yang rumit. Para peserta justru diajak memulai dari satu pertanyaan sederhana: siapa sebenarnya para pemangku kepentingan yang hadir di sekitar kegiatan pertambangan, dan apa yang mereka rasakan?
Dari pertanyaan tersebut, hari pertama In-house Training Stakeholder Engagement Grup MIND ID 2026 bergerak menjadi ruang belajar yang hidup. Peserta dari berbagai anggota Grup MIND ID membawa pengalaman lapangan masing-masing. Ada cerita tentang akses jalan, debu, tenaga kerja lokal, harapan masyarakat, hingga informasi yang beredar lebih cepat daripada klarifikasi resmi.
Fasilitator kemudian mengajak peserta melihat bahwa “masyarakat” bukanlah satu kelompok yang seragam. Di dalamnya ada pemerintah desa, tokoh adat, kelompok perempuan, pemuda, pelaku usaha, warga terdampak, kelompok rentan, suara yang lantang, dan suara yang hampir tidak pernah terdengar. Setiap aktor memiliki kepentingan, pengaruh, kekhawatiran, dan tingkat kepercayaan yang berbeda.
Memetakan Stakeholder dan Membaca Persepsi

Sumber: Dokumentasi AMF
Melalui stakeholder map, peserta belajar menempatkan aktor secara lebih rinci. Sementara melalui issue-risk-perception register, mereka berlatih membedakan fakta, persepsi, rumor, keluhan, dan interpretasi. Pembedaan ini terasa sederhana, tetapi sangat menentukan. Respons yang dibangun dari fakta tentu berbeda dengan respons terhadap kabar yang masih perlu dikonfirmasi.
Dari Studi Kasus hingga Membangun Kepercayaan
Diskusi kelompok menjadi semakin hangat ketika konsep dipertemukan dengan studi kasus dari Aceh, Parit Lapis/Akatara, dialog multipihak, dan isu PETI. Cerita lapangan membuat peserta memahami bahwa hubungan baik tidak dibangun hanya melalui pertemuan formal atau program bantuan. Kepercayaan tumbuh melalui kehadiran yang konsisten, kemampuan mendengar, kejelasan batas kewenangan, serta tindak lanjut yang terdokumentasi.
Bagi peserta, latihan ini juga menjadi cermin bahwa persoalan sosial jarang berdiri sendiri. Isu teknis dapat berubah menjadi persoalan keadilan, identitas, reputasi, bahkan tata kelola ketika tidak dibaca sejak awal secara utuh oleh seluruh pihak.
Hari pertama pun ditutup dengan satu kesadaran bersama: stakeholder engagement bukan sekadar komunikasi. Ia adalah disiplin untuk membaca manusia, mengenali risiko lebih awal, dan menjaga keputusan tetap berpijak pada bukti.





