Anwar Muhammad Foundation – Satwa liar memainkan peran krusial dalam menjaga keseimbangan ekosistem melalui pengaturan rantai makanan. Mereka mencegah ledakan populasi spesies tertentu dan memastikan aliran energi tetap stabil di alam. Sedangkan rantai makanan merupakan urutan transfer energi dari produsen ke konsumen dan dekomposer dalam ekosistem. Produsen seperti tumbuhan menghasilkan makanan melalui fotosintesis, sementara konsumen primer berupa herbivora memakannya, diikuti konsumen sekunder dan tersier sebagai predator. Satwa liar mendominasi sebagai konsumen perantara dan puncak, mengontrol alur ini agar tidak terganggu.
Tanpa pengaturan ini, herbivora bisa menghabiskan vegetasi secara berlebihan, menyebabkan degradasi lahan. Contohnya, di hutan tropis Indonesia, rantai makanan melibatkan ribuan spesies yang saling bergantung.
Peran Predator Puncak

Sumber: papua betahita
Predator puncak seperti harimau Sumatra dan elang Jawa bertindak sebagai pengatur utama populasi herbivora. Harimau menjaga jumlah rusa dan babi hutan agar tidak meledak, mencegah overgrazing yang merusak vegetasi. Elang Jawa memangsa tikus dan tupai, melindungi pertanian dari hama.
Di ekosistem laut, hiu martil mengendalikan populasi ikan kecil, menjaga kesehatan terumbu karang. Penyu hijau memakan alga berlebih, mencegah sufokasi karang. Kehilangan predator ini memicu efek domino, seperti yang terlihat di Yellowstone ketika serigala reintroduksi mengembalikan keseimbangan sungai.
Kontrol Populasi Herbivora

Sumber: Restorasi Ekosistem Riau
Satwa liar herbivora seperti kera dan rusa dikendalikan oleh karnivora untuk menghindari deforestasi alami. Di hutan Indonesia, tanpa harimau, populasi babi hutan melonjak, menghancurkan tunas pohon dan memicu erosi. Ular sebagai konsumen sekunder memakan tikus, mencegah kerusakan tanaman padi.
Data KLHK mencatat lebih dari 300 spesies endemik Indonesia berperan dalam rantai ini, menjaga kesuburan tanah melalui siklus nutrisi dari kotoran mereka. Gangguan seperti perburuan liar mengacaukan kontrol ini, menyebabkan ketidakseimbangan berkelanjutan.
Peran Dekomposer dan Pemakan Bangkai

Sumber: Kumparan
Burung bangkai dan serigala membersihkan bangkai, mendaur ulang nutrisi ke tanah. Ini mencegah penyebaran penyakit dan menyuburkan produsen. Di Indonesia, spesies seperti cacing tanah dan serangga mempercepat dekomposisi, menjaga siklus nitrogen.
Serangga pemakan bangkai juga menjadi makanan burung, melengkapi rantai makanan. Hilangnya spesies ini menyebabkan akumulasi limbah organik, mengurangi produktivitas ekosistem.
Dampak Gangguan Rantai Makanan

Sumber: gardaanimalia.com
Perburuan dan habitat loss mengancam satwa liar, memutus rantai makanan. Di pasar seperti Pramuka Jakarta, perdagangan satwa liar melemahkan predator puncak. Akibatnya, herbivora berlebih merusak hutan, mengurangi oksigen dan meningkatkan banjir.
Studi IPB University menunjukkan Indonesia sebagai pusat perdagangan satwa, memperburuk kehilangan keanekaragaman hayati. Efek domino ini terlihat di Palangka Raya, di mana penurunan satwa liar mengganggu profil keanekaragaman hayati.
| Tingkat Rantai Makanan | Contoh Satwa Liar Indonesia | Peran Pengatur | Dampak Punah |
|---|---|---|---|
| Predator Puncak | Harimau Sumatra, Elang Jawa | Kontrol herbivora | Overgrazing vegetasi |
| Konsumen Sekunder | Ular, Hiu Martil | Kontrol hama | Ledakan populasi tikus |
| Konsumen Primer | Rusa, Kera | Penyebar biji | Degradasi tanah |
| Dekomposer | Burung Bangkai, Serangga | Daur ulang nutrisi | Penumpukan limbah |
Upaya Konservasi

Sumber: konservasialam.or.id
Konservasi satwa liar esensial untuk memulihkan rantai makanan. Program KLHK dan TNC fokus pada habitat lindung seperti lereng Gunung Slamet. Pendidikan masyarakat, terutama pemuda, mendorong partisipasi melalui kampanye anti-perburuan.
Teknologi seperti monitoring satwa via kamera jebak membantu pengawasan. Di Desa Tenjolayar, konservasi lokal menjaga jaring makanan kompleks. Dukungan ESG perusahaan dapat mempercepat restorasi ekosistem.
Manfaat bagi Manusia

Sumber: inilahsulsel.com
Satwa liar menjaga layanan ekosistem seperti penyediaan air bersih dan pencegahan bencana. Hutan tropis Indonesia, dengan satwa pengatur, menyerap karbon dan mendukung SDG 15. Keseimbangan ini mengurangi biaya mitigasi bencana bagi masyarakat Jakarta.
Baca juga: Biodiversity Loss pada Ekosistem Darat dan Perairan Indonesia
Partisipasi publik melalui citizen science meningkatkan data konservasi, melibatkan generasi muda dalam aksi lingkungan. Dengan demikian, pelestarian satwa liar bukan hanya tanggung jawab alam, tapi investasi masa depan.
Kesimpulan
Satwa liar berfungsi sebagai pengatur utama rantai makanan, menjaga keseimbangan ekosistem melalui kontrol populasi, daur ulang nutrisi, dan pencegahan efek domino seperti overgrazing atau ledakan hama. Di Indonesia, spesies endemik seperti harimau Sumatra dan elang Jawa esensial untuk keberlangsungan hutan tropis, pertanian, dan layanan ekosistem bagi manusia. Konservasi melalui program pemerintah, partisipasi masyarakat, dan inisiatif ESG menjadi kunci memulihkan rantai ini, mendukung SDG 15 serta mengurangi risiko bencana alam.
Referensi
Tenjo Layar Desa. (2025, Desember 20). Menjaga ekosistem Desa Tenjolayar: Konservasi satwa liar sebagai pilar utama.
Eco Espos. (2025, November 11). Satwa liar dan peran pentingnya bagi keberlangsungan hutan.
Institut Pertanian Bogor. (2025, Juni). Ahli genetika ekologi IPB University: Indonesia masih jadi mata rantai perdagangan satwa liar.
Yayasan Konservasi Alam Nusantara. Mengenal lebih dekat satwa langka.
Gramedia Literasi. (2024, November 6). Materi rantai makanan: Pengertian, fungsi, dan contohnya.
detikBali. (2024, Oktober 6). Mengapa satwa liar penting untuk keseimbangan ekosistem.





