Lompat ke konten

Biodiversity Loss pada Ekosistem Darat dan Perairan Indonesia

Anwar Muhammad Foundation – Indonesia dikenal sebagai salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia — rumah bagi ribuan spesies flora dan fauna yang tersebar dari hutan tropis hingga ekosistem laut. Namun, beberapa laporan dan kajian terbaru menunjukkan bahwa kehilangan keanekaragaman hayati (biodiversity loss) sedang terjadi secara signifikan di berbagai wilayah Indonesia, baik di darat maupun di perairan, terutama akibat tekanan antropogenik dan perubahan iklim.

Kondisi Keanekaragaman Hayati

Sumber: detik.com

Bappenas, bersama dengan BRIN dan KLHK, meluncurkan dokumen strategis yang memetakan status keanekaragaman hayati Indonesia pada 2024, mencatat kekayaan spesies flora dan fauna yang luar biasa besar. Dokumen ini menjadi dasar bagi strategi nasional untuk konservasi dan penggunaan berkelanjutan melalui Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045.

Meskipun potensi hayati masih tinggi, tren ke depan menunjukkan masalah serius terkait kehilangan keanekaragaman hayati, termasuk peningkatan jumlah spesies yang terancam punah. Sebagai contoh, data terbaru menunjukkan Indonesia memiliki ribuan spesies yang berada dalam daftar merah ancaman kepunahan.

Biodiversity Loss di Ekosistem Darat

Sumber: wwf.panda.org

Penelitian terbaru mengungkap bahwa Pulau Sumatra mengalami tingkat kehilangan keanekaragaman hayati tertinggi di Indonesia dibandingkan pulau lainnya berdasarkan Biodiversity Intactness Index (BII) pada periode 2017–2020. Penurunan yang signifikan terjadi pada habitat satwa besar seperti gajah, harimau, dan orangutan, yang juga menunjukkan bagaimana fragmentasi habitat memperburuk status konservasi spesies darat.

Aktivitas manusia seperti deforestasi untuk perkebunan, pertambangan, dan alih fungsi lahan menjadi pendorong utama penurunan ini. Bahkan beberapa fenomena bencana alam, seperti banjir ekstrem di Sumatra Utara pada akhir 2025 — telah menyebabkan kerusakan habitat besar dan kenaikan angka kematian pada spesies rentan seperti Tapanuli orangutan, yang populasinya sudah sangat rendah sebelum peristiwa ini terjadi.

Biodiversity Loss di Ekosistem Perairan

biodiversity loss di ekosistem

Sumber: mongabay

Ekosistem perairan Indonesia, termasuk laut, mangrove, dan padang lamun, juga menghadapi ancaman serius. Salah satu contoh adalah wilayah Raja Ampat, yang merupakan rumah bagi lebih dari 75% spesies karang dunia. Di sana, aktivitas penambangan nikel telah meningkat beberapa kali lipat antara 2020 dan 2024, menyumbang dampak negatif berupa sedimentasi dan degradasi habitat laut.

Ancaman kepada ekosistem laut juga terkait dengan perubahan iklim, polusi, dan penangkapan ikan yang berlebihan. Penurunan kualitas ekosistem ini berdampak tidak hanya pada spesies laut, tetapi juga pada ketahanan ekonomi masyarakat pesisir yang bergantung pada sumber daya laut.

Faktor Penyebab Biodiversity Loss

biodiversity loss di ekosistem

Sumber: mertani

Beberapa faktor utama yang mendorong kehilangan keanekaragaman hayati di Indonesia antara lain:

  1. Perubahan penggunaan lahan dan deforestasi, yang mengakibatkan fragmentasi habitat dan penurunan kualitas lingkungan.
  2. Eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan pada darat maupun laut.
  3. Dampak perubahan iklim, termasuk fenomena cuaca ekstrem yang merusak habitat alami.
  4. Polusi dan limbah, khususnya di wilayah pesisir dan perairan.

Dampak bagi Ekosistem dan Masyarakat

biodiversity loss di ekosistem

Sumber: klikhijau.com

Kehilangan keanekaragaman hayati memiliki implikasi serius bagi stabilitas ekosistem dan kesejahteraan manusia. Fragmentasi habitat dan kehilangan spesies dapat mengganggu rantai makanan, merusak jasa ekosistem seperti polinasi dan siklus nutrien, serta mengancam ketahanan pangan dan ekonomi komunitas lokal.

Selain itu, penurunan biodiversitas di laut berdampak langsung terhadap produksi perikanan yang menjadi sumber pendapatan utama banyak komunitas pesisir.

Upaya Konservasi dan Strategi Nasional

Sumber: Youtube

Indonesia telah meluncurkan sejumlah inisiatif strategis untuk mengatasi isu ini, termasuk IBSAP 2025–2045 yang bertujuan melindungi dan memulihkan ekosistem penting, serta mengintegrasikan data biodiversitas dalam kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Baca juga: Jawa Timur: Mosaik Ekosistem, Tekanan Ekologis, Dan Penjaga Yang Lama “Tak Terlihat”

Pemerintah juga mengadakan rakornas pengelolaan biodiversitas untuk menyatukan visi antara pemerintah pusat dan daerah. Hal ini menegaskan bahwa keanekaragaman hayati bukan hanya sumber ekologis, tetapi juga aset strategis untuk masa depan bangsa.

Kesimpulan

Biodiversity loss di Indonesia merupakan masalah yang nyata dan berkembang, terjadi di ekosistem darat maupun perairan. Meskipun Indonesia masih menyandang status sebagai negara megabiodiversitas, tren terjadinya penurunan kualitas dan jumlah spesies merupakan peringatan penting bahwa upaya konservasi yang efektif dan berkelanjutan sangat diperlukan. Melalui kebijakan yang kuat, penguatan data ilmiah, dan partisipasi masyarakat luas, Indonesia dapat menjaga kekayaan hayatinya untuk generasi mendatang.

 

Referensi

Asia-Pacific Solidarity Network. (2025, December 26). Sumatra faces highest biodiversity loss in Indonesia, expert says. Retrieved from tempo.co.

Bappenas. (2025, August 20). Bappenas luncurkan dokumen strategis pemetaan keanekaragaman hayati Indonesia.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. (2025, August 19). Status Kehati Indonesia diluncurkan: KLH/BPLH–Bappenas dorong tata kelola berkelanjutan.

Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup. (2025, September 18). Rakornas Kehati 2025: Menteri LH ajak daerah satukan visi jaga kekayaan hayati Indonesia.

The Guardian. (2025, December 9). It’s the world’s rarest ape. Now a billion-dollar dig for gold threatens its future.

The Guardian. (2025, December 12). Indonesia floods were ‘extinction level’ disturbance for world’s rarest ape.

Associated Press. (2025, January 30). Experts and advocates warn of nickel mining’s risk to precious marine region of Indonesia.

Author