Anwar Muhammad Foundation – Jawa Timur disebut memiliki posisi strategis karena merupakan salah satu provinsi dengan tingkat keanekaragaman hayati tinggi di Pulau Jawa—namun juga menghadapi tekanan ekologis yang signifikan. Lanskapnya berlapis: pesisir, mangrove, hutan dataran rendah dan pegunungan, kawasan karst, hingga lanskap agrikultural yang intensif.
Seperti halnya wilayah lain di Indonesia, Jawa Timur juga tidak luput dari persoalan deforestasi, meskipun terdapat tren perbaikan dalam beberapa tahun terakhir. Data Global Forest Watch mencatatkan bahwa dari tahun 2001 hingga 2024, Jawa Timur kehilangan sekitar 110.000 hektar tutupan pohon, yang mewakili penurunan 6% dari luasan tahun 2000. Namun, statistik terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan optimisme. Sejak periode 2019-2020, angka deforestasi netto di Jawa Timur menurun drastis dan mendekati nol pada periode 2021-2022, dengan akumulasi kehilangan hanya sebesar 698 hektar. Penurunan ini mencerminkan peningkatan efektivitas pengelolaan hutan dan pengawasan terhadap praktik penebangan liar (illegal logging).
Dengan kondisi demikian, “penjaga” seringkali bukan hanya aparat kawasan atau program proyek; melainkan warga yang hidup dari dan bersama bentang alam tersebut. Dokumen menegaskan bahwa banyak komunitas lokal di Jawa Timur telah berperan menjaga keanekaragaman hayati melalui praktik dan pengetahuan turun-temurun, namun kontribusi ini belum sepenuhnya terlihat atau diakomodasi secara strategis dalam kebijakan daerah.
Baca juga: Dari Cali ke Jawa Timur: Kebijakan Global Menuntut Bukti di Tingkat Tapak
Di sinilah Profil KEHATI dan RIP KEHATI diuji: apakah ia mampu menangkap pengetahuan lokal sebagai bagian dari “data” dan “solusi”, bukan sekadar catatan pinggir.
Kesimpulan
Jawa Timur merepresentasikan mosaik ekosistem yang kaya sekaligus rapuh, dengan tekanan ekologis yang masih nyata meski tren deforestasi menunjukkan perbaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan pengelolaan hutan tidak hanya ditentukan oleh kebijakan dan aparat, tetapi juga oleh peran komunitas lokal yang selama ini menjadi penjaga ekosistem “tak terlihat”. Tantangan ke depan terletak pada kemampuan kebijakan daerah—termasuk Profil KEHATI dan RIP KEHATI—untuk mengakui, mengintegrasikan, dan memperkuat pengetahuan serta praktik lokal sebagai bagian dari solusi konservasi yang berkelanjutan.





