Lompat ke konten

PETA JALAN KEHATI JATIM: DARI IBSAP KE AKSI DAERAH

Anwar Muhammad Foundation – Jawa Timur adalah mosaik ekosistem: dari hutan dataran rendah hingga pesisir ber-mangrove, dari pulau-pulau penyangga kehidupan hingga pegunungan vulkanik. Rencana Induk Pengelolaan Keanekaragaman Hayati (RIP Kehati) hadir untuk menata mosaik itu—agar terhubung, pulih, dan berkelanjutan—seraya sinkron dengan RPJMD 2025–2029 dan IBSAP 2025–2045.

TIGA LAPISAN YANG HARUS SELARAS

  • Strategi Nasional (IBSAP 2025–2045): 13 strategi, 20 target, 95 kelompok aksi, plus panduan Monev, Komunikasi, Pendanaan, Perhitungan Indeks.
  • Perencanaan Daerah (RPJPD/RPJMD): Indikator Indeks Pengelolaan Kehati (IPKH) dan penurunan emisi GRK masuk kinerja utama.
  • RIP & Profil Kehati: 6 tujuan, 15 sasaran, 35 rencana aksi; berangkat dari Profil (data ekosistem–spesies–genetik–pengetahuan tradisional) menuju aksi.

PRIORITAS EKOLOGI: KONEKTIVITAS DAN SPESIES KUNCI

Peta Jalan Kehati

Sumber: id wikipedia

  • Koridor satwa: Menyatukan habitat terfragmentasi untuk menekan kepunahan.
  • Spesies prioritas daerah: Misalnya rusa Bawean, banteng, elang Jawa, kakatua jambul kuning—dengan paket aksi: bio-inventarisasi, penilaian ancaman, dan SOP pengelolaan satwa di luar kawasan hutan.
  • 22 tipe ekosistem: Peta ekosistem jadi kompas penentuan lokasi rehabilitasi, restorasi pesisir, dan Taman Kehati kab/kota.

SATU DATA KEHATI: FONDASI MONEV YANG KREDIBEL

Peta Jalan Kehati

Sumber: mongabay

  • Aktivasi Balai Kliring Kehati: Standarisasi satuan; harmonisasi format data lintas OPD, kampus, LSM, dan dunia usaha.
  • Integrasi sumber data: Inventarisasi daerah, hasil riset, dan kewajiban PROPER hijau (konservasi & rehabilitasi) sebagai bukti kontribusi swasta.
  • Indikator IPKH: Menilai capaian tahunan dan memberi umpan balik kebijakan.

Pull-quote: “RIP bukan sekadar dokumen—ia adalah instrumen perubahan yang bekerja lewat data, dialog, dan dana.”

PEMBIAYAAN INOVATIF: DARI “BLOK ASUH” KE CSR STRATEGIS

Peta Jalan Kehati

Sumber: iStock

  • Blok asuh Taman Kehati: Membagi area pengelolaan ke BUMD/BUMN/industri, mengamankan biaya O&M dan program spesifik (penanaman, monitoring, edukasi).
  • CSR strategis & green procurement: Menyelaraskan prioritas perusahaan dengan target RIP; memanfaatkan pengadaan hijau untuk program rehabilitasi.
  • Skema kolaboratif: Kemitraan dengan proyek global seperti GBFI untuk Profil, RIP, kerangka Monev, dan produk pengetahuan.

Baca Juga : Taman Kehati Cerme: Laboratorium Hidup Jawa Timur

PESISIR & LAUT: TIGA IKON, SATU ROADMAP

Peta Jalan Kehati

Sumber: ngopibareng

  • Dugong (Bawean): Perlindungan padang lamun, tata kelola penanganan mamalia laut terdampar (melibatkan BBKSDA, BPSPL, Pokmaswas).
  • Hiu paus (Probolinggo–Pasuruan–Situbondo): Ekowisata berbasis sains dan etika pengamatan satwa.
  • Pari manta (Teluk Biru Banyuwangi): Zona pengelolaan wisata terbatas dan edukasi masyarakat pesisir.
  • Roadmap 2025–2027: (2025) Tim kerja kolaboratif; (2026) penguatan jejaring komunitas konservasi; (2027) kelembagaan berkelanjutan.

RENCANA AKSI INTI (CONTOH PAKET 2025–2027)

Peta Jalan Kehati

Sumber: marine biodiversity science center

  • Data & Pemetaan: Profil kehati berbasis ekoregion; peta 22 tipe ekosistem; baseline spesies & ancaman.
  • Konektivitas Habitat: Identifikasi dan proteksi koridor; pedoman tata ruang untuk integrasi koridor satwa.
  • Restorasi Pesisir: Rehabilitasi mangrove di 19 kab/kota; pemulihan terumbu karang prioritas.
  • Taman Kehati Kab/Kota: Minimal satu per kab/kota dengan DED vegetasi & infrastruktur, modul edukasi, dan skema blok asuh.
  • Penguatan Kelembagaan: SK Gubernur tim penyusun & implementasi; FGD tematik; konsultasi publik berjadwal.
  • Monev & Pelaporan: Dashboard IPKH tahunan; laporan capaian RIP; komunikasi publik yang menarik dan mudah dipahami.

PERAN TIAP PEMANGKU KEPENTINGAN

Peta Jalan Kehati

Sumber: Dokumentasi AMF

  • Pemda/OPD: Kurasi data, siapkan lahan prioritas, integrasikan ke RTRW, uji coba Taman Kehati.
  • Dunia Usaha: Sediakan dana blok asuh, integrasikan target RIP ke rencana CSR/ESG, berbagi data PROPER.
  • Akademisi/BRIN: Riset, bio-inventarisasi, metode monev, peningkatan kapasitas.
  • Komunitas/Adat: Pengetahuan tradisional, pengawasan berbasis warga, edukasi lokal.
  • NGO/Media: Fasilitasi dialog, kampanye sadar-kehati, kontrol sosial.

Kesimpulan

Peta Jalan Keanekaragaman Hayati Jawa Timur menunjukkan bahwa keberhasilan pengelolaan kehati tidak cukup hanya dengan dokumen perencanaan; ia membutuhkan keselarasan antara strategi nasional, kebijakan daerah, dan aksi lapangan yang terukur. Integrasi IBSAP, RPJMD, dan RIP Kehati membentuk kerangka yang memungkinkan konektivitas habitat, perlindungan spesies prioritas, serta rehabilitasi ekosistem darat maupun pesisir. Semua itu hanya dapat berjalan di atas fondasi Satu Data Kehati yang kredibel, mekanisme pembiayaan yang inovatif, serta peran kolaboratif dari pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan organisasi masyarakat sipil. Dengan pendekatan ini, Jawa Timur tidak sekadar merespons ancaman ekologis, tetapi membangun model tata kelola kehati yang berbasis data, kolaborasi, dan keberlanjutan jangka panjang.

Author