Lompat ke konten

Taman Kehati Cerme: Laboratorium Hidup Jawa Timur

Anwar Muhammad Foundation – Sore itu, embung di Taman Kehati Cerme memantulkan cahaya keperakan. Di tepiannya, anakan pohon sawo kecik ditanam rapat, sementara petugas menyiram menggunakan air tandon yang terhubung ke jaringan perpipaan. Inilah “laboratorium hidup” seluas ±23 hektare di Desa Kambingan dan Wedani, Gresik—di jantung kawasan industri—yang dirancang untuk menguji satu pertanyaan sederhana namun penting: bisakah kota memulihkan ekosistemnya sambil memberi manfaat nyata bagi masyarakat?

Mengapa Cerme Penting

Taman Kehati Cerme

Sumber: jawa pos

  • Posisi strategis: Lahan aset Provinsi yang direstorasi untuk fungsi ekologis dan sosial.
  • Tantangan awal: Sosialisasi dan penataan pemanfaatan lahan yang sebelumnya digunakan masyarakat, ditangani dengan pendekatan persuasif dan kolaboratif.
  • Tujuan utama: Pemulihan ekosistem, peningkatan kualitas udara, edukasi publik, dan ekowisata berbasis ilmu.

Arsitektur Ekologis: Dari Busut ke Embung

Taman Kehati Cerme

Sumber: DLH Provinsi Jawa Timur

  • Sistem busut: Teknik bertanam yang menahan cadangan air, mengurangi erosi, dan mendukung aerasi akar—krusial pada musim kering.
  • Dua embung: Selain menyimpan air, salah satunya memunculkan mata air baru—indikator pemulihan hidrologi mikro.
  • Zonasi bertahap: Penanaman ±300 pohon peneduh; komposisi 51% tanaman utama dan 49% tanaman pendukung menjaga struktur komunitas vegetasi untuk fungsi ekologi (naungan, pakan serangga penyerbuk, rantai makanan).

Tiga Kategori Tanaman: Ekologi Bertemu Manfaat Publik

Taman Kehati Cerme

Sumber: DLH Provinsi Jawa Timur

  • Penyerap polutan — Target mengurai logam berat dan gas beracun; menurunkan beban polusi udara kawasan industri.
  • Hias/estetika — Memikat warga agar datang, belajar, dan merawat; estetika mengundang kepedulian.
  • Produktif — Mendukung ketahanan pangan/ekonomi lokal; membuka ruang inovasi tanaman produksi yang ecogreen dan sesuai ekoregion.

“Di Cerme, edukasi tidak berhenti pada papan nama spesies—ia hidup dalam embung, busut, dan bibit yang tumbuh.”

Baca Juga : Dari Bogor ke Kampung-Kampung: Jalan Panjang Replikasi ‘KPK’

Ekonomi Sirkular & Edukasi

Taman Kehati Cerme

Sumber: media indonesia

  • Greenhouse pembibitan: Bank genetik mini bagi tanaman langka/lokal; wahana praktik sekolah/universitas.
  • Zero-waste node: Pengelolaan sampah berbasis sirkular; mengubah residu jadi nilai.
  • Wood pellet unit: Ranting/pelepah jadi bahan bakar biomassa; dedaunan menjadi kompos. Pusat edukasi yang menjelaskan rantai sirkular dari pemangkasan menuju energi/pupuk.

Jembatan ke Ekoregion Jawa Timur

Taman Kehati Cerme

Sumber: mardyblog

Jawa Timur memiliki 16 ekoregion darat dan 3 ekoregion laut—dari pesisir mangrove hingga pegunungan vulkanik. Taman Kehati seperti Cerme menjadi node percontohan untuk memulihkan jasa ekosistem (penyimpanan air, penyaring polutan, ruang hidup spesies) sekaligus ruang belajar tentang koridor satwa—jalur ekologis yang menghubungkan habitat-habitat terfragmen.

Kemitraan Pentahelix yang Nyata

Taman Kehati Cerme

Sumber: kemenlh go

  • Pemerintah: DLH Provinsi memimpin pengelolaan dan berkoordinasi dengan DLH Gresik.
  • Swasta: Kolaborasi dengan industri, termasuk dukungan Petrokimia Gresik untuk penanaman.
  • Akademisi: Riset vegetasi, monitoring, inovasi pemulihan.
  • Komunitas: Partisipasi warga dalam pemeliharaan dan program edukasi.
  • LSM/Media: Advokasi, edukasi publik, dan diseminasi praktik baik.

“How-To” bagi Kota/Kabupaten Lain

Taman Kehati Cerme

Sumber: DLH Provinsi Jawa Timur

  • Mulai dari Profil Kehati: Petakan flora-fauna dominan, pengetahuan tradisional, dan area kritis.
  • Tetapkan tujuan ekologi + sosial: Polusi apa yang ingin dikurangi? Manfaat apa untuk warga?
  • Rancang infrastruktur air: Embung & perpipaan sebagai tulang punggung.
  • Pilih vegetasi sesuai ekoregion: Hindari spesies invasif; jaga rantai makanan.
  • Siapkan modul edukasi: Greenhouse, jalur interpretasi, papan informasi yang “bercerita”.

Kesimpulan

Taman Kehati Cerme menunjukkan bahwa pemulihan ekosistem di tengah kawasan industri bukan hanya mungkin, tetapi dapat menghasilkan manfaat sosial yang nyata. Melalui kombinasi arsitektur ekologis—seperti sistem busut, embung, dan zonasi vegetasi—area ini mulai memulihkan fungsi hidrologi dan kualitas lingkungan sekitarnya. Pendekatan tiga kategori tanaman, unit ekonomi sirkular, serta fasilitas edukatif seperti greenhouse memperlihatkan bahwa konservasi dapat berjalan berdampingan dengan pemberdayaan masyarakat. Kolaborasi lintas aktor dalam model pentahelix membantu memastikan taman ini berfungsi sebagai ruang belajar, ruang hidup, dan contoh praktik restorasi yang dapat ditiru oleh kota atau kabupaten lain. Cerme menjadi bukti bahwa ruang hijau perkotaan dapat berevolusi menjadi laboratorium hidup yang memperkuat ketahanan ekologis dan pemahaman publik.

Author