Anwar Muhammad Foundation — Ekonomi sirkular keluarga dimulai dari pekarangan rumah. Satu keranjang sampah dapur, satu boks maggot BSF, dan satu kandang ayam ringkas: kombinasi ini bisa menjadi mesin kecil ekonomi sirkular di tingkat RT. Dalam diskusi di Sekolah Vokasi IPB, para dosen PPP bersama tim AMF menekankan hal yang kerap luput: pakan adalah jantung biaya. Ketika sebagian pakan diganti maggot yang diproduksi sendiri dari sampah organik terpilah—dengan prosedur kebersihan yang ketat—biaya turun, margin naik, dan ketergantungan pada pakan pabrikan berkurang. Dampaknya langsung ke arus kas rumah tangga yang dikelola ibu-ibu: telur lebih murah dihasilkan, sebagian dijual, sebagian masuk ke piring anak.
Pakan Organik: Menurunkan Biaya, Meningkatkan Margin

Sumber: indonesia-furniture
Ikan hias menambahkan opsi pendapatan “bernilai per ekor” bagi rumah dengan ruang sempit. Namun mengelola kualitas air per rumah—yang sering berbeda—dan logistik pengiriman butuh SOP yang presisi. Di sinilah peran vokasi terasa: PPP memadukan keterampilan budidaya dengan kemampuan penyuluhan—menyiapkan warga tidak hanya bisa memelihara, tetapi juga mendokumentasikan standar kerja, higienitas, dan catatan produksi.
Saat UMKM kecil ingin naik kelas (misalnya menjadi pemasok pakan lokal atau bibit ikan hias), jejaring AMF ke komunitas dan korporasi membuka peluang CSR, mikro-pembiayaan, hingga dukungan pemasaran.
Model Bisnis Ekonomi Sirkular: Langkah Bertahap untuk Kemandirian Pangan

Sumber: hrnstiftung
Model implementasinya dirancang bertahap: mulai dari pilot satu kelompok kecil (agar pembelajaran terakumulasi), lalu pemilihan komoditas yang paling stabil di konteks setempat (ayam telur, ikan hias, atau maggot). Setelah itu, tim menyusun model bisnis—arus biaya, harga jual, pemasok input, standarisasi kemasan—dan membangun rantai pasok mikro: siapa produsen pakan, siapa pengepul telur, siapa pembeli ikan hias. Semua dibingkai dalam brand “Ketahanan Pangan Keluarga (KPK)” agar mudah dipahami warga, mudah diadopsi pemda/CSR, dan lebih menarik di mata pasar.
Konsistensi Kolaborasi: Menggunakan Data untuk Keputusan yang Tepat

Sumber: better life farming
Selama dua tahun kolaborasi, alasan ko-kreasi PPP–AMF tetap konsisten:
- Kedalaman teknis vokasi yang aplikatif
- Orientasi AMF pada tata kelola, pengukuran manfaat, dan keberpihakan—terutama pada perempuan
- Keberanian bertumpu pada data riil (berapa kg sampah organik per rumah, rasio konversi maggot ke pakan, konsistensi produksi telur)
Ketika data menjadi dasar keputusan, intervensi menjadi hemat, tepat, dan replikatif—bukan proyek seremonial.
Baca Juga : Kebun Mini, Dapur Besar: Ketahanan Pangan dari Halaman Sendiri
Maggot sebagai Simbol Perubahan: Dari Sampah ke Pakan

Sumber: kahuripancitra
Pada akhirnya, maggot bukan sekadar larva—ia adalah simbol perubahan cara pandang: bahwa sisa dapur bukan “limbah”, melainkan “pakan” untuk mengubah biaya menjadi nilai. Dan para ibu, dengan disiplin harian mereka, adalah manajer terbaik untuk memastikan siklus kecil ini berputar: dari sampah—ke maggot—ke ayam—ke telur—ke gizi—kembali menjadi daya hidup keluarga.
Kesimpulan
Ekonomi sirkular keluarga dapat dimulai dengan perubahan kecil yang berkelanjutan, seperti mengganti pakan ayam dengan maggot yang diproduksi sendiri dari sampah organik. Model bisnis yang bertahap dan berbasis data ini mampu menurunkan biaya, meningkatkan pendapatan, dan menguatkan ketahanan pangan keluarga. Peran ibu-ibu penggerak disini tidak hanya penting sebagai pelaksana, tetapi juga sebagai pengelola siklus ekonomi mikro yang berkelanjutan, mengubah sampah menjadi sumber daya.
Referensi
- Peran & mandat Sekolah Vokasi IPB (vokasi terapan; sejarah dan transformasi) — Sekolah Vokasi IPB
- Program PPP/TPPMP (kompetensi, orientasi penyuluhan & budidaya) — Sekolah Vokasi IPB
- Informasi kampus & kontak (Jl. Kumbang No.14) — Sekolah Vokasi IPB
- Profil & peran AMF dalam kemitraan multi-pihak — amf.or.id

