Anwar Muhammad Foundation — Ketahanan pangan keluarga menjadi fokus utama kolaborasi antara Sekolah Vokasi IPB dan Anwar Muhammad Foundation (AMF). Di sebuah ruang kelas SV IPB di Jl. Kumbang No.14, Bogor, ide kecil yang membumi bertemu dengan ambisi besar: menjadikan pekarangan warga sebagai “kebun mini” yang menopang dapur keluarga.
Pertemuan sore itu (14.00–16.30 WIB) mempertemukan tim Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian (sering disingkat PPP) dengan Anwar Muhammad Foundation (AMF). Topiknya sederhana, namun berdaya ungkit: integrated farming skala rumah tangga—merangkai ikan hias, ayam petelur, dan maggot menjadi ekosistem kecil yang saling menghidupi.
Mengapa Rumah Tangga Menjadi Kunci Ketahanan Pangan

Sumber: bali buda
Mengapa rumah tangga? Karena krisis paling terasa justru pada pengeluaran harian. Dengan modal sekitar Rp5 juta, 20–30 ekor ayam petelur bisa menghasilkan ±1 kg telur/hari. Dihitung kasar, ada potensi Rp30 ribu/hari—Rp900 ribu/bulan—yang bukan sekadar tambahan rupiah, tetapi penyangga gizi keluarga.
Bagaimana dengan pakan? Sebagiannya dapat diganti maggot Black Soldier Fly (BSF) yang bisa dibudidayakan dari sampah organik, sepanjang dipastikan standar kebersihan (food grade vs feed grade) dan tata kelola pakan.
Sementara ikan hias menawarkan margin per ekor yang tinggi untuk ruang sekecil 2×3 m²—cocok bagi warga urban—meski perlu standar air dan logistik pengiriman yang rapi. Ikan konsumsi seperti lele tetap mungkin, namun pada luasan super kecil, biaya operasional kerap mengalahkan pendapatan.
Filsafat Kecil Pertanian Keluarga

Sumber: globaliving
Di sinilah “filsafat kecil” pertanian keluarga menemukan bentuknya: memadukan kebermanfaatan ekonomi, kemandirian pangan, dan kedisiplinan ekologis. PPP SV IPB membawa kompetensi budidaya dan penyuluhan terapan—mulai dari teknik pemeliharaan, bio-safety, sampai desain rantai pasok rumahan. AMF membawa jejaring komunitas, skema pemberdayaan perempuan, dan lensa keberlanjutan agar program tidak berhenti di panen pertama.
Strategi Bertahap Menuju Gerakan Ketahanan Pangan Keluarga

Sumber: global alliance against hunger and poverty
Strateginya bertahap:
- Pilot kecil di satu kelompok
- Pilih komoditas paling stabil (ayam telur/ikan hias/maggot)
- Susun model bisnis dan rantai pasok
- Kemas sebagai gerakan “Ketahanan Pangan Keluarga (KPK)”
Arah jangka panjangnya: produk organik bernilai premium, komunitas belajar, dan jembatan menuju skema PNM/UMKM/CSR atau kampus kolaboratif.
Kuncinya data yaitu berapa sampah organik realistis per rumah? Seberapa konsisten suplai pakan alternatif? Jawaban konkret akan menentukan skala dan daya tahan.
Baca Juga : Satwa Langka Indonesia Terancam Punah, Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Sekilas Profil Mitra: SV IPB dan AMF
Sekolah Vokasi IPB adalah transformasi program diploma IPB (berdiri 1979) yang kini memusatkan diri pada vokasi terapan. Program PPP menyiapkan sarjana terapan yang menguasai budidaya pertanian sekaligus pengembangan masyarakat—mempersiapkan “penyuluh-entrepreneur” yang dekat dengan realitas warga.
AMF, berdiri sejak 2011, adalah yayasan yang menautkan masyarakat, pemerintah, dan swasta untuk solusi ESG—dengan kultur kolaborasi, metrik hasil, dan keberpihakan pada kelompok rentan.
Selama dua tahun terakhir, keduanya menemukan alasan yang sama: ko-kreasi yang merapat ke warga, fleksibel terhadap konteks lokal, dan terukur manfaatnya—terutama pada dapur keluarga dan dompet ibu-ibu penggerak.
Kesimpulan
Dari halaman selebar dua meter, lahir pelajaran besar: kedaulatan pangan dimulai dari rumah. Jika pekarangan bisa memberi telur, pakan, dan sedikit tabungan, maka “kebun mini” itu sejatinya adalah sekolah kehidupan—tempat ekonomi mikro, ekologi, dan gotong royong saling menyuburkan.
Referensi
SV IPB profil & alamat kampus (Jl. Kumbang No.14) — Sekolah Vokasi IPB
Profil Program PPP/TPPMP (tujuan, kompetensi, peran penyuluh) — Sekolah Vokasi IPB
Profil & misi AMF (sejak 2011, jembatan pemangku kepentingan) — amf.or.id
Kata kunci:
