Anwar Muhammad Foundation – Hari Lahan Basah Sedunia berakar dari penandatanganan Konvensi Ramsar pada 2 Februari 1971 di kota Ramsar, Iran. Konvensi ini merupakan perjanjian internasional pertama yang secara khusus mengatur konservasi dan penggunaan bijak lahan basah, termasuk kawasan bernilai tinggi bagi keanekaragaman hayati, terutama burung air.
Peringatan tahunan Hari Lahan Basah Sedunia direkomendasikan dalam Konferensi Para Pihak (COP) Ramsar dan kemudian diresmikan oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2021 melalui resolusi resmi. Momentum ini bertujuan meningkatkan kesadaran global tentang peran penting lahan basah dalam menjaga keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan manusia.
Indonesia meratifikasi Konvensi Ramsar pada tahun 1991 melalui Keputusan Presiden Nomor 48 Tahun 1991. Saat ini, Indonesia memiliki puluhan Situs Ramsar yang tersebar di berbagai wilayah, termasuk kawasan mangrove, danau, rawa, dan lahan gambut yang kaya biodiversitas. Beberapa contohnya mencakup Pulau Rambut (DKI Jakarta), Danau Sentani (Papua), dan kawasan gambut di Kalimantan.
Peringatan ini tidak hanya bersifat simbolis, tetapi juga menjadi dorongan untuk aksi nyata, seperti restorasi lahan basah yang terdegradasi akibat alih fungsi lahan, ekspansi permukiman, dan tekanan industri.
Definisi dan Jenis Lahan Basah

Sumber: indonesia.wetlands.org
Lahan basah adalah ekosistem di mana air berada di atau dekat permukaan tanah secara permanen maupun musiman, mencakup wilayah air tawar, payau, hingga asin. Menurut Konvensi Ramsar, lahan basah meliputi rawa, gambut, mangrove, delta sungai, danau, sungai, sawah irigasi, hingga terumbu karang.
Di Indonesia, lahan basah mencakup area yang signifikan, termasuk hutan mangrove dan lahan gambut yang berperan besar dalam penyimpanan karbon dan perlindungan pesisir.
Secara umum, lahan basah diklasifikasikan menjadi tiga jenis utama:
- Pesisir (mangrove, estuari)
- Pedalaman (rawa, danau, sungai)
- Buatan manusia (waduk, sawah, kolam)
Keberagaman ini menjadikan lahan basah sering disebut sebagai “ginjal bumi”, karena kemampuannya menyaring polutan, mengurangi risiko banjir, dan menyimpan karbon dalam jumlah besar. Secara global, lahan basah menyimpan porsi karbon daratan yang signifikan meskipun luasnya relatif kecil dibanding ekosistem lainnya.
Manfaat Ekonomi, Sosial, dan Lingkungan

Sumber: kumparan.com
Lahan basah memberikan manfaat lintas sektor:
Secara ekologis, lahan basah menjadi habitat bagi berbagai spesies flora dan fauna serta menopang produktivitas perikanan dan keanekaragaman hayati.
Di Indonesia, mangrove berperan dalam melindungi garis pantai dari abrasi, badai, dan intrusi air laut.
Secara ekonomi, lahan basah mendukung sektor perikanan, pertanian, dan ekowisata. Kawasan Ramsar di berbagai wilayah juga berpotensi menjadi destinasi wisata berbasis konservasi.
Secara sosial, lahan basah menyediakan sumber air, pangan, dan mata pencaharian bagi jutaan masyarakat, termasuk komunitas adat yang bergantung pada ekosistem gambut dan pesisir.
Selain itu, perlindungan lahan basah berkontribusi pada pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDG 6 (Air Bersih), SDG 13 (Penanganan Perubahan Iklim), dan SDG 14 (Ekosistem Laut).
Ancaman dan Tantangan Terkini

Sumber: mongabay
Secara global, lahan basah mengalami penyusutan dan degradasi signifikan akibat drainase, polusi, konversi lahan, dan dampak perubahan iklim.
Di Indonesia, tekanan terbesar berasal dari alih fungsi lahan, ekspansi perkebunan, pertambangan, serta kebakaran lahan gambut yang berdampak besar pada emisi karbon dan kualitas lingkungan.
Tantangan lainnya meliputi pengawasan yang terbatas di beberapa Situs Ramsar, konflik tata guna lahan, serta kebutuhan pendanaan untuk restorasi dan pengelolaan jangka panjang.
Upaya Konservasi di Indonesia

Sumber: CNBC Indonesia
Pemerintah Indonesia bersama mitra internasional dan masyarakat sipil terus melakukan rehabilitasi lahan basah, restorasi gambut, serta perlindungan mangrove sebagai bagian dari komitmen terhadap pengendalian perubahan iklim dan target net zero emission 2060.
Baca juga: 10 Januari: Menanam Satu Juta Pohon untuk Merawat Kehidupan
Inisiatif komunitas dan organisasi lingkungan juga berperan dalam agroforestri berkelanjutan, pemantauan keanekaragaman hayati, serta pemanfaatan teknologi seperti drone dan sistem pemantauan digital.
Masyarakat turut didorong untuk berpartisipasi melalui kegiatan pelaporan biodiversitas dan aksi konservasi berbasis komunitas.
Kesimpulan
Hari Lahan Basah Sedunia 2026 menekankan pentingnya perlindungan dan pemulihan lahan basah untuk masa depan yang berkelanjutan, dengan fokus pada kolaborasi antara pemerintah, komunitas, sektor swasta, dan organisasi lingkungan.
Di Indonesia, peringatan Hari Lahan Basah Sedunia pada 2 Februari 2026 diisi dengan berbagai kegiatan, seperti kampanye edukasi publik, penanaman mangrove, webinar lingkungan, serta aksi komunitas di kawasan danau, pesisir, dan lahan gambut.
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang peran strategis lahan basah dalam mitigasi perubahan iklim, perlindungan biodiversitas, serta ketahanan pangan dan air.
Referensi
Jurnas.com. (2026, 1 Februari). Mengenal Hari Lahan Basah Sedunia yang diperingati 2 Februari.
Hari Lahan Basah Sedunia 2025: “Jaga Lahan Basah untuk Masa Depan yang Cerah”. (2025, 31 Januari). Kantor Sumber Daya Air Sulawesi Selatan.
Hari Lahan Basah Sedunia. (2024, 1 Februari). Balai Penelitian dan Pengembangan Sumberdaya Lahan Pertanian.
Hari Lahan Basah Sedunia – 2 Februari. (2023, 31 Desember). Pusat Informasi PBB di Indonesia.
Hari Lahan Basah Sedunia: Menjaga kesehatan lahan basah demi kesejahteraan. (2020, 3 Juni). WWF Indonesia.





