Lompat ke konten

10 Januari: Menanam Satu Juta Pohon untuk Merawat Kehidupan

Anwar Muhammad Foundation – Hari Gerakan Menanam Satu Juta Pohon yang diperingati setiap 10 Januari merupakan inisiatif nasional Indonesia untuk mendorong reboisasi dan pemulihan lingkungan melalui aksi penanaman pohon secara kolektif. Gerakan ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat—mulai dari pemerintah, komunitas, hingga dunia pendidikan—sebagai respons atas degradasi hutan dan menurunnya kualitas lingkungan.

Pada 2026, peringatan ini kembali relevan seiring dengan berbagai upaya nasional dalam meningkatkan tutupan vegetasi dan memperkuat komitmen pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

Sejarah Penanaman Massal

Sumber: Yoursay.suara.com

Hari Gerakan Menanam Satu Juta Pohon pertama kali digagas pada 10 Januari 1993 sebagai respons terhadap maraknya penebangan liar dan kerusakan hutan di berbagai wilayah Indonesia. Gagasan ini mendorong setiap daerah untuk melakukan penanaman pohon di lahan kritis, bantaran sungai, serta kawasan tandus guna memulihkan fungsi ekosistem.

Inisiatif tersebut terinspirasi dari praktik penanaman pohon massal seperti Arbor Day yang dikenal secara internasional, namun disesuaikan dengan konteks Indonesia yang saat itu menghadapi laju deforestasi yang signifikan.

Sejak itu, kegiatan penanaman pohon berkembang menjadi agenda tahunan yang melibatkan pemerintah daerah, TNI/Polri, sekolah, komunitas, dan sektor swasta. Dalam perjalanannya, program ini juga terintegrasi dengan berbagai kebijakan dan gerakan nasional penghijauan.

Fungsi Ekologis Penanaman Pohon

menanam satu juta pohon

Sumber: KLH

Penanaman pohon memiliki fungsi ekologis yang krusial. Pohon menyerap karbon dioksida melalui proses fotosintesis, sehingga berperan dalam mitigasi perubahan iklim. Sistem perakaran membantu menahan erosi tanah, meningkatkan daya serap air hujan, serta mengurangi risiko banjir dan longsor, terutama di wilayah rawan bencana.

Di kawasan perkotaan, keberadaan pohon berkontribusi dalam menyaring polutan udara, memperbaiki kualitas udara, serta menciptakan iklim mikro yang lebih sejuk. Penanaman di kawasan mangrove dan hutan lindung juga membuka ruang pemulihan keanekaragaman hayati dan menyediakan habitat bagi berbagai spesies.

Manfaat Sosial dan Ekonomi

menanam satu juta pohon

Sumber: radarbekasi.id

Selain dampak ekologis, gerakan menanam pohon juga memiliki nilai sosial dan ekonomi. Kegiatan ini menjadi sarana edukasi lingkungan bagi generasi muda, menanamkan kesadaran bahwa menjaga alam dapat dimulai dari tindakan sederhana namun konsisten.

Baca juga: Jerhemy Owen dan Aksi Penanaman Hijau Kembali di Indonesia

Dalam konteks ekonomi lokal, penanaman pohon produktif—seperti kopi, kakao, atau buah-buahan—mendukung praktik agroforestri yang berpotensi meningkatkan pendapatan petani sekaligus menjaga keseimbangan ekosistem. Secara lebih luas, gerakan ini sejalan dengan pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya aksi iklim dan perlindungan ekosistem darat

Kesimpulan

Peringatan 10 Januari melalui Gerakan Menanam Satu Juta Pohon mengingatkan bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar aksi simbolik, melainkan komitmen jangka panjang. Penanaman pohon berperan penting dalam memulihkan ekosistem, memperkuat ketahanan lingkungan, serta mendukung kesejahteraan masyarakat. Namun, dampak nyata hanya dapat terwujud jika penanaman diikuti dengan perawatan, perlindungan, dan partisipasi publik yang berkelanjutan.

 

Referensi

Okezone.com. (2026, 9 Januari). 374.839 Pohon Ditanam PNM, Jejak Nyata Hijaukan Negeri di Hari Gerakan Satu Juta Pohon.

Liputan6.com. (2026, 8 Januari). Sambut Hari Sejuta Pohon 10 Januari: Dua Kota di Jakarta

Rumah Zakat. (2026, 1 Januari). Hari Gerakan Satu Juta Pohon Diperingati Setiap 10 Januari.

Detik.com. (2025, 5 Januari). Hari Gerakan Sejuta Pohon 10 Januari: Sejarah hingga Tujuan.

Detik.com. (2023, 6 Januari). Hari Gerakan Satu Juta Pohon 10 Januari: Sejarah dan Cara Memperingati.

Author